Ayah. Belakangan ini menghinggapi relung hatiku. Masih aku jumpai sosok ayah dikala pagi hingga malamku, dari tidur hingga kembali ku tertidur. Sosok satu ini tidak bisa lepas dari hidup dan kehidupanku. Darinya aku belajar banyak hal. Tanggung jawab, dedikasi, kerja keras dan tentu saja semangat spiritual. Aku tidak bisa membayangkan akan bagaimana perjalanan hidupkan tanpa dia. Ayahku bagiku guruku. Bukan karena dia berprofesi sebagai guru, karena dia memang bukan seorang guru tapi dia hanya seorang buruh dengan kerja kerasnya. Akan tetapi banyak hal yang bisa aku timba darinya. Selain itu, ayahku juga inspirasiku untuk terus berjuang dan berjuang menapaki takdir kehidupanku saat ini dan ke depan nanti. Ayahku tidaklah pandai, namun ayahku adalah sosok yang cerdas. Bagiku ayah segalanya.
Seperti halnya dengan yang lain, seiring berjalannya waktu komunikasiku dengan ayahku tidak selamanya baik. Adakalanya “misunderdtanding” tentang suatu hal yang biasanya lebih dominan dengan kehidupan pribadiku. Di kali lain begitu dekat bahkan sangat dekat layaknya seorang anak dan ayahnya. Barangkali ada keinginan dan prinsip hidupnya yang sampai saat belum mampu aku penuhi. Bukan tidak bisa, tapi mungkinbutuh waktu dan proses.
Dimataku, ayahku sangat hebat, dan benar- benar hebat. Sebagai lelaki yang memiliki tanggungjawab tidak ringan, dengan 2 orang anaknya dan 2 orangtuanya, dia mampu menunjukkan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Dia selalu memutarotaknya untuk bekerja dan selalu meluwangkan waktunya untuk bekerja. Ada sisi kekurangan dan kelemahan dalam dirinya dan itu sangat wajar terjadi sebagai manusia biasa. Karena manusiatak ada yang sempurna. Ayahku punya kelebihan tersendiri dan kekurang yang dia miliki selalu bisa dia tutupi denga kelebihan seperti halnya penilaian dimata orang –orang disekitar yang menilai dia secara dekat.
Saat kecil, darinya aku sudah belajar bagaimana menagemen waktu, disela sela belajarku masih ada waktu bermain bersama teman – teman dan tidak akan mengganggu waktu belajarku. Ketika besar pun ayah tidak lelahnya mengajariku mengenai prinsip dan nilai – nilai kehidupan selayaknya aku jadikan patokan dalam menyusuri kehidupan yang fana ini.
Diusianya yang sudah menjelang kepala 5 membuatnya tak lagi memiliki ketangguhan seperti halnya dulu. Akan tetapi ayah selalu berfikir tegas, buatnya diam tak lagi ada artinya. Dia selalu memiliki semangat dan ambisi seperti masa mudanya. Ayahku dimasa mudanya. Dia adalah pemuda yang tahan malu, keadaan keluarganya yang pas – pas – an dan adik – adiknya yang banyak membuatnya harus hidup mandiri. Bermodalkan tenaga mudanya dia harus berjalan kaki setiap melakukan kegiatan, dari sekolah dan kegiatannya yang lain. Dia terus memutar otak untuk mewujudkan pendidikan yang dia inginkan. Setiap sore hingga banyak teman – teman yang harus menunggu dirumahnya untuk belajar, memberikan ilmu secara gratis. Kata ayah dikehidupan yang lalu ilmu adalah modalnya untuk berbagi.
Keinginanya untuk merasakan sarjana dia harus berbanting setir. Dia menjadi kondektur bus dan mulai menabung. Perjalananya dari kota kekota memberikan pengalam yang baru. Dia tidak hanya kondektor akan tetapi dia adalah sosok kondektur yang ulet dan ramah. 3 tahun beradu nasib menjadi kondektur memaksanya harus pulang, karena disana bayak orang yang menunggunya. Saat itu dia diminta menjabat sebagai perangkat desa dimasa mudanya. Permintaan yang cuma – cuma karena saat itu pun buat mencalonkan diri juga harus merogoh kocek yang luar biasa. Pikirnya permintaan itu akan merubah hidupnya dan lebih cepat buatnya menjadi sarjana. Hasilnya pekerjaan itu mampu dia raih dan kembali kehidupnya di masyarakat.
Keuletanya tak membuatnya patah arah setelah dia menerima pekerjaan tersebut. Semakin hari dia terus memutar otaknya mencari pekerjaan yang lain. Peternak ayam kampong, sapi aging, berkebun dan usaha lain yang menemani perjalanhidupnya. Dari sana dia mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain juga.
Kesuksesan yang telah dia raih hingga sekarang tak membuatnya besar kepala, akan tetapi dia masih menjadi ayah yang sederhana seperti dulu. Dan ayahku sosok seseorang yang tidak mau diam. Terbukti setiap pekerjaan yang menemani hidupnya selalu dia kerjakan sendiri dan tidak berpatokan dengan orang lain. The best insipirasi.
Ayah, aku berdo’a semoga jerih payah yang telah ayah lakukan selama ini untukku dan keluarga mendapat balasan setimpal dari Allah SWT. Semoga dengan kebaikanmu Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu, melimpahi keberkahan dalam sisa hidupmu dan senantiasa diberi kebahagiaan lahir dan batin.
“Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira
Ya Tuhan kami, ampunilah segala dosaku dan dosa kedua ibu bapakku serta kasihanilah ibu bapakku sebagaimana mereka mengasihaniku sewaktu masa kecilku.
Amin. (jeni_hmjf)